Welcome to KieKy's Blog \(^.~)/

Kamis, 10 Maret 2011

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams – Achievement Divisions)


Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
(Student Teams – Achievement Divisions)

Pada STAD siswa dalam suatu kelas tertentu dibagi menjadi kelompok dengan anggota 4 sampai dengan 5 orang, setiap kelompok haruslah heterogen terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Anggota team menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya, dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui toturial, kuis, satu sama lain dan melakukan diskusi.
Pengertian STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dengan sintaks pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusi bahan belajar LKS, modul secara kolabratif, sajian presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual serta memberikan reward.
Langkah-langkah STAD
1.     Membentuk kelompok secara heterogen (jenis kelamin, ras, kemampuan).
2.     Guru menyajikan pelajaran.
3.     Guru memberi tugas kelompok dan anggota yang tahu menjelaskan pada anggota lain sampai semua anggota mengerti.
4.     Guru memberi pertanyaan/kuis kepada seluruh siswa dan pada saat menjawab tidak boleh saling membantu.
5.     Evaluasi.
6.     Kesimpulan.
Penghargaan Kelompok
Berdasarkan hasil nilai perkembangan maka penghargaan pada prestasi kelompok diberikan dalam tingkat penghargaan seperti kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super (Naparin, 2006:33).

Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.

Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.


RAHASIA DAN MANFAAT BUAH KURMA

RAHASIA DAN MANFAAT BUAH KURMA

Kurma adalah buah yang berkah, Rasulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memakannya ketika mulai berbuka dari puasa Ramadhan.

Dari Salman ibn ‘Aamir, Sesungguhnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Jika salahs eorang diantara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada maka dengan air karena air itu bersih dan suci. (HT. Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Anas, sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ; berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma mengkel segar yang baru dipetik dari pohonnya-pent) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan beberapa kurma matang, kalau tidak ada, maka dengan meneguk beberapa tegukan air putih. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Tidak diragukan lagi bahwa dibalik sunnah nabi ini ada petunjuk medis dan manfaat yang banyak bagi kesehatan, dan hukum yang bagus. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam telah memilih makanan ini dan tidak memilih yang lainnya karena adanya manfaat yang sangat besar, tidak hanya karena buah itu banyak dijumpai di lingkungannya semata. Maka, ketika seorang yang berpuasa mulai berbuka maka organ-organ tubuhnya akan bersiap; dan organ pencernaan mulai berakivitas kembali, khususnya lambung yang butuh untuk diberikan sesuatu yang lembut, dan memulai mengakifkan kerjanya kembali dengan halus. Dan orang yang sedang berpuasa, pada keadaan ini, sangat butuh akan makanan yang mengandung gula yang mudah dicerna, yang bisa menghilangkan rasa lapar, persis seperti ia butuh akan air.
Dan nutrisi makanan yang tercepat bisa dicerna dan sampai ke darah adalah zat gula, khususnya makanan yang mengandung satu atau dua zat gula (glukosa atau sukrosa). Sebab tubuh mampu menyerap dengan mudah dan cepat zat gula itu hanya dalam beberapa menit. Apalagi jika lambung dan perut sedang kosong, seperti orang yang berpuasa ini.

Andai anda mencari makanan yang bisa menyamai dua kandungan yang dituju ini secara bersama (menghilangkan lapar dan dahaga secara bersamaan dengan satu makanan), maka anda tidak akan pernah menemukan makanan itu lebih baik daripada apa yang disuguhkan oleh sunnah nabawiyah, dimana sunnah memotivasi orang yang berpuasa untuk membuka puasanya dengan zat gula manis sekaligus kaya akan air (ruthab) atau pun tamar (kurma matang).
Berdasarkan penelitian bio-kimia, ditemukan bahwa satu bagian kurma yang kita makan sama dengan 86 – 87 % beratnya; mengandung 20 – 24 % air; 70 – 75 % gula; 2 – 3 % protein; 8,5% serat; sangat kecil sekali kandungan lemah jenuh (lecithine).

Berdasarkan penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa ruthab (kurma mengkel) mengandung 65 – 70 % air berdasarkan berat bersihnya; 24 – 58 % zat gula; 1,2 – 2 % protein; 2,5 % serat, dan sedikit sekali mengandung lemak jenuh (lecithine).

Berdasarkan penelitian kimiawi dan fisiologi yang dilakukan Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, diperoleh data sebagai berikut:
  • Mengkonsumsi ruthab (kurma mengkel, masih segar, matang dipohon) atau tamar (kurma matang kering seperti yang tersebar di Indonesia -pent) setiap kali mengawali buka akan menambah terhadap badan persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit anemia (kurang darah), sehingga tubuh lebih menjadi bergairah;
  • Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula ini secara cepat dan maksimal;
  • Sesungguhnya kandungan ruthab dan tamar akan zat gula dalam bentuk kimia sederhana menjadikan proses mencerna dan menyerap di lambung sangat mudah, sebab 2/3 (dua per tiga) zat gula ada dalam tamar dan dalam bentuk zat kimia sederhana. Hal ini pun bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat;
  • Sesungguhnya adanya tamar yang mengandung air, dan ruthab yang mengandung air tinggi (65 - 70 %) akan menambahkan terhadap tubuh persentase yang tidak membahayakan, maka dengan itu seorang yang berpuasa tidak harus meminum air dalam jumlah banyak ketika berbuka. (Abm)
Dr. Hissaan Syamsi Basya
sumber : http://eky008.blogspot.com/2010/08/rahasia-dan-manfaat-buah-kurma.html

Pembelajaran Cooperative Learning


Pembelajaran Cooperative Learning
Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Menurut Anita Lie dalam bukunya “Cooperative Learning”, bahwa model pembelajaran Cooperative Learning tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan.
Model pembelajaran Cooperative Learning merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran Cooperative Learning dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok (Johnson & Johnson, 1993), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke arah berpikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa (Setiawan,
2005).
Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Apakah model pembelajaran kooperatif itu? Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompokkelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran[1]. Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur. Struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur tujuan serta struktur penghargaan model pembelajaran yang lain siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.
Ciri-ciri Cooperative Learning, antara lain :  
1.     Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran cooperative, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa saling membutuhkan. Saling ketergantungan dapat dicapai melalui: saling ketergantungan mencapai tujuan, saling ketergantungan menyelesiakan tugas, saling ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan peran, dan saling ketergantungan hadiah.
2.     Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka akan memaksa siswa saling tatap muka dalam kelompok sehingga mereka dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru. Interaksi semacam ini sangat penting karena siswa merasa lebih mudah belajar dari sesama.
3.     Akuntabilitas individual
Pembelajaran cooperative menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui pengusaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata balajar semua anggotanya, karena itu semua anggota kelompok harus memberikan sumbangan demi kamajuan kelompok.
4.     Ketrampilan menjalin hubungan antar pribadi
Ketrampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi.

Terdapat 6 (enam) langkah dalam Cooperative Learning.[2]

Langkah
Indikator
Tingkah Laku Guru
Langkah 1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengkomunikasikan kompetensi dasar yang akan dicapai serta memotivasi siswa.
Langkah 2
Menyajikan informasi.
Guru menyajikan informasi kepada siswa.
Langkah 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menginformasikan pengelompokan siswa.
Langkah 4
Membimbing kelompok belajar.
Guru memotivasi serta memfasilitasi kerja siswa dalam kelompok-kelompok belajar.
Langkah 5
Evaluasi.
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Langkah 6
Memberikan penghargaan.
Guru memberi penghargaan hasil belajar individual dan kelompok.


Keuntungan Penggunaan Cooperative Learning :  
Ada banyak nilai pembelajaran cooperative yang dapat menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar. Peserta didik tidak hanya belajar dengan guru, tetapi juga dari sesama peserta didik. Beberapa keuntungan cooperative learning menurut Sugiyanto (2008 : 41) diantaranya adalah:
Ø Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
Ø Memungkinkan para peserta didik saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan
Ø Memudahkan peserta didik melakukan penyesuaian sosial.
Ø Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
Ø Menghilangkan mementingkan diri sendiri atau egois.
Ø Membangun persahabatan yang dapat berlanjut sampai dewasa.
Ø Berbagai ketrampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan.
Ø Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial, agama dan orentasi tugas.

Kelemahan Pembelajaran Kooperatif.
  1. Pembelajaran kooperatif bukanlah obat yang paling mujarab untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil.
  2. Adanya ketergantungan sehingga siswa yang lambat berfikir tidak dapat berlatih belajar sendiri.
  3. Pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang lama sehingga target pencapaian kurikulum tidak dapat dipenuhi.
  4. Pembelajaran kooperatif tidak dapat menerapkan materi pelajaran secara cepat.
  5. Penilaian terhadap individu dan kelompok dan pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk melaksanakannya (Soewarso, 1998 :23).



[1] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/31/12:58/cooperative-learning-teknik-jigsaw/html

[2] http://pinggiralas.blogspot.com/2010/05/11:16/contoh-ptk-kooperatif-jigsaw.html

Agar puasa tak sia-sia


Agar puasa tak sia-sia


Sobat, sungguh sayang seribu sayang kalo puasa kita cuma nahan lapar dan haus doang. Nggak ada pahala yang didapat. Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad)

Duh, rugi banget deh. Jujur aja pasti kita nggak mau kan kalo puasa kita tuh cuma dapetin lapar dan haus doang? Jangan sampe deh sia-siakan puasa kita. Nah, hadis di atas tadi ngasih gambaran buat kita untuk senantiasa waspada dengan apa yang akan kita perbuat. Sebab nih, puasa nggak hanya diwajibkan untuk menahan dari makan dan minum doang, tetapi juga menahan mata dari memandang yang dilarang (ayo, matanya jangan ampe jelalatan kayak mo maling jemuran), menahan telinga dari mendengar yang buruk, dan menahan mulut dari bicara kotor, mengumpat, dan menggunjing. Pun menjaga tangan dari berbuat maksiat, menjaga kaki dari melangkah ke tempat yang dilarang.

Duh, duh, kok jadi banyak banget larangannya? Hehehe.. kalem sobat, itu tandanya Allah Swt. dan RasulNya emang perhatian sama kita-kita. Larangan itu tanda cinta dan sayang lho. Sebab, nasihat nggak selamanya berupa ajakan kebaikan (amar ma’ruf), tapi juga melarang kemungkaran (nahyi munkar).

Selain itu, di malam bulan Ramadhan nih, Islam memotivasi umatnya untuk mengerjakan amalan sunnah; shalat tarawih dan tadarus al-Quran, misalnya. Dorongan untuk melaksanakan shalat sunnah harus dipahami bahwa shalat wajib harus lebih giat lagi untuk dilakukan. Jangan sampe tarawih aja yang semangat dikerjakan karena senang rame-rame ama temen, eh, sholat isya malah kelewat nggak dikerjakan. Waduh, nggak banget deh.
Sobat, dalam urusan ibadah di bulan Ramadhan ini, jangan sampe kita ngelaksanain cuma memenuhi ibadah ritual doang. Terjebak dalam ritualisme. Artinya apa? Artinya kaum Muslimin, kita-kita nih, ketika melaksanakan ibadah hanya untuk memenuhi kewajiban semata, tanpa memperhatikan esensi dari setiap bacaan yang ia ucapkan atau gerakan yang ia lakukan dalam ibadahnya itu. Akibatnya, ibadah yang seharusnya memberi pengaruh terhadap perilaku, menjadi gerakan atau ucapan yang kosong tanpa makna. Gaswat deh kalo sampe kejadian begini. Dan, kalo diliat-liat sih emang begitu. Sedih banget euy.

Coba aja interospeksi diri atau mungkin ngeliat lingkungan sekitar. Pas di kampus, pas di pasar, atau mungkin di perjalanan. Betapa banyak saudara kita (termasuk kita, barangkali) yang masih cuma bisa nahan lapar dan haus doang. Tapi nggak bisa nahan nafsu untuk nggak ngelakuin kemaksiatan. Ati-ati ye! 


Itu sebabnya, sungguh disayangkan banget kalo di antara kita banyak yang kuat menahan diri dari rasa lapar dan haus, tapi malah nggak bisa berkutik saat melawan godaan hawa nafsu. Mulut kita bisa bertahan dari makanan atau minuman, tetapi nggak bisa menahan dari menggunjing, mengumpat, dan bicara kotor. Puasanya memang tidak batal, tetapi esensi dari ibadah shaum yang mengajarkan untuk semakin meningkatkan ketakwaan kita, menjadi tidak bermakna. Puasa kita menjadi sia-sia. Sebab tak mendapatkan apa-apa (pahala), kecuali hanya rasa lapar dan haus.

Sobat, Islam adalah totalitas. Itu artinya, saat kita ibadah dengan ketika kita bermuamalah dalam kehidupan duniawi kita, keduanya harus senantiasa berpatokan kepada aturan Islam. Bukan yang lain. Oke? Hmm.. semoga ngerti'Laaah. Insya Allah.



Model Pembelajaran Cooperative Learning Teknik Jigsaw


Model Pembelajaran Cooperative Learning
 Teknik Jigsaw
Pertamakali jigsaw dikembangkan adalah untuk menghadapi isu yang disebabkan oleh perbedaan sekolah- sekolah di Amerika Serikat yang sering terjadi antara tahun 1964- 1974.[1]
Metode pembelajaran kooperatif jenis jigsaw ini adalah strategi belajar kooperatif di mana setiap siswa menjadi seorang anggota dalam bidang tertentu. Kemudian membagi pengetahuannya krpada orang lain dari kelompoknya agar setiap orang pada akhirnya dapat mempelajari konsep- konsep. Jigsaw dapat digunakan jika materi yang akan dipelajari adalah berbentuk narasi tertulis. Metode ini paling sesuai untuk subjek- subjek seperti pelajaran ilmu social, literature, dan sebagian pelajaran ilmu pengetahuan ilmiah lainnya yang tujuan pembelajaran lebih kepada penguasaan konsep dari pada penguasaan kemampuan.[2]
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Model pembelajarannya merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan”[3]
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Langkah- langkah pembelajaran cooperative learning tipe  jigsaw adalah sebagai berikut:
1.     Pembelajaran menggunakan jigsaw diawali dengan pengenalan topik yang akan dibahas oleh guru.
2.     Guru membagi kelas menjadi kelompok- kelompok kecil yang jumlahnya bergantung pada jumlah konsep yang terdapat pada topik yang dipelajari. Kelompok ini dinamakan kelompok asal.
3.     Setelah kelompok asal terbentuk, guru membagi materi tekstual kepada tiap-tiap kelompok. Setiap individu bertanggung jawab mempelajari materi yang diterima dari guru.
4.     Setelah semua mendapatkan materi dibentuklah kelompok ahli (expert time) yang beranggotakan siswa yang mempunyai materi atau topik pembahasan yang sama.
5.     Setelah kelompok ahli berkumpul, diberikan kesempatan untuk kelompok tersebut supaya berdiskusi tentang materi yang telah dibagikan untuk memberikan pemahaman bagi siswa.
6.     Selanjutnya, masing- masing anggota yang berada di kelompok ahli dikembalikan kepada kelompok asal.
7.     Kemudian diberikan esempatan untuk kelompok asal berdiskusi dengan teman lain dalam satu kelompok mengenai topik atau materi yang telah didiskusikan pada kelompok ahli. Kegiatan ini merupakan refleksi terhadap pengetahuan yang telah didapat dari hasil berdiskusi pada kelompok ahli.
8.     Sebelum pembelajaran diakhiri kembalikan siswa pada keadaan semula.
9.     Mintalah siswa untuk berdiskusi dengan teman- teman dalam kelas untuk memadukan keserasian pemahaman.
10.  Setelah selesai, guru menutup pembelajaran dengan memberikan review terhadap topik yang telah dipelajari.



[1] Isjoni, Model- Model Pembelajaran…, hlm. 155
[2] Robert E. Slavin, Cooperative Learning, Teori, Riset, dan Praktik, Tarjamah, (Bandung:Nusa Media, 2008),hlm.237
[3] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/07/31/12:46/12:58/cooperative-learning-teknik-jigsaw/html
[4] Anita Lie. Cooperative Learning, (Jakarta : Grasindo,2007 )